Dokter Yenny Membantu Anak-anak di Kabupaten Asmat Lewat Program Gerakan Sebutir Telur

Meski terlihat sederhana, namun kebiasaan antre mencuci tangan di wastafel merupakan salah satu pendidikan karakter yang akan berguna bagi mereka di kemudian hari.
Setelah mencuci tangan, anak-anak dikumpulkan di sebuah aula untuk doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberkahan yang diberikan sebelum menikmati telur ayam yang sudah direbus.
Jika stok telur ayam, susu, biskuit dan makanan tambahan lainnya berlebih maka keuskupan akan membagikan kepada anak-anak usia di atas tujuh tahun, termasuk bagi ibu hamil. Hanya saja, program ini diprioritaskan kepada anak usia satu hingga lima tahun mengingat keterbatasannya.
Tidak hanya memerhatikan aspek gizi, anak-anak juga diedukasi untuk mengenal lagu-lagu nasional. Hal ini merupakan upaya sedari dini untuk menanamkan kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Yenny yang juga Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Perpetua Safanpo itu menjelaskan, Program Sebutir Telur bukan untuk pencegahan stunting atau tengkes.
Pemberian telur ayam yang kaya akan protein serta makanan tambahan lainnya lebih kepada upaya memperbaiki gizi anak.
Sementara, penanganan stunting maka penanganannya sudah harus dilakukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan atau saat janin masih di dalam kandungan.
Program Sebutir Telur meski digagas Keuskupan Agats dan KMKI, namun program ini juga untuk anak-anak beragama Islam atau pendatang.
Dokter gigi bernama Yenny Yokung Yong banyak aktif di bidang sosial dan kemanusiaan di tanah Papua terutama di Kabupaten Asmat.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News